Debat kusir sering digunakan orang sebagai istilah untuk diskusi yang tak berguna dan tiada habisnya. Merupakan gabungan dari dua kata, yaitu debat dan kusir. Debat adalah proses interaksi antara dua atau lebih orang yang membincangkan suatu fenomena dan realita kehidupan berdasarkan interpretasi dan sudut pandang masing-masing pihak yang berinteraksi. Sedangkan kusir orang yang bertanggungjawab mengendalikan kuda yang menghela (menarik) dokar/delman/andong supaya baik jalannya. Lalu apa hubungan debat kusir ?
Coba kita ingat-ingat bagaimana posisi duduk kusir, posisinya membelakangi penumpang, atau menyamping. Karena jika berhadapan dengan penumpang sadonya bisa jadi nabrak. Jadi dari sudut pandangnya saja sudah berbeda, dilihat dari posisi duduknya dengan penumpang.
Istilah debat kusir muncul ketika Birokrat ulung Indonesia pada jaman orde baru Harmoko iseng naik delman (dokar) dari rumahnya menuju tempat kerjanya. Baru beberapa meter delman melaju, tercium bau menyengat yang tidak enak. Kemudian terjadi debat :
Pak Harmoko : “Bang, delmannya kok bau yach ?”.
Kusir yang juga merasakan adanya bau itu langsung menjawab : “iya maaf pak, kudanya kentut !”
Pak Harmoko menimpali. : “ Kudanya masuk angin tuch, makanya kalau malam masukkan ke kandang”
Merasa disalahkan Kusir lantas membantah : “Bukan masuk angin pak, tapi keluar angin”
Sebagai seorang birokrat ulung tentu menjawab lagi sambil berusaha meyakinkan si kusir : “Masuk Angin ah!”
Kusir yang merasa berpengalaman merawat kuda lantas menjawab lagi : “paaaaak, yang namanya kentut itu bukan memasukkan angin tapi mengeluarkan angin , jadi keluar angin ! bapak ini gimana sich ?
Pak Harmoko masih tetap berusaha meyakinkan dengan menambah referensi “menurut petunjuk bapak presiden, “…… kuda itu masuk angin !
Pak Harmoko dan Kusir tetap pada pendiriannya tentang kentut (kuda) sampai akhirnya Pak Hamoko turun dari dokar untuk menuju kantor dan kusir kembali ke jalan untuk mencari penumpang lainnya. Mulai dari situlah istilah Debat Kusir sering digunakan !!!
Kisah lainnya,
Penumpang : “wah…. Pemandangannya bagus ya…” (disamping jalan ada sawah terhampar luas..)
Kusir : “apanya yang bagus bu, dari tadi yang diliat Cuma jalan lurus aja kok, bosenin” (pandangan kusir kedepan, yang ada cuma jalan lurus).
Ya nggak nyambung…!! Dan kalau dilanjutin, bakalan makin ngelantur.
Atau ada contoh lain.
Misal pak kusir tiba-tiba kentut, otomatis alirannya langsung ke penumpang (karena membelakangi tadi). Nah, penumpang akan bertanya, “bapak kentut ya…kok saya nyium bau kentut sih pak !! ”, tanya penumpang. Pak kusir berkata, “ah… perasaan nggak…ini mah bau kotoran kuda”, (karena kusir langsung menghadap pada pantat kuda). “nggak kok saya yakin ini bau kentut”, timpal sang penumpang. “lho ibu jangan nuduh saya gitu dong, saya nggak nyium bau kentut, yang saya cium kotoran kuda”, sanggah kusir. “oohhh…. Gitu, jadi bapak nggak mau ngaku kalo udah ngentutin saya”, kata penumpang, “kalo gitu saya turun disini aja…”, kata penumpang marah (padahal emang sudah nyampe tempat tujuan). “oi… bu, bayar dong, kok maunya gratisan”, kata kusir makin panas. “enak aja, saya nggak mau bayar gara-gara nyium kentut bapak !!”, kata penumpang sambil kabur sewot.
Tuh..kan makin nggak bener. Ini Cuma ilustrasi dari debat kusir. Diawali dengan sudut pandang yang nggak nyambung, ditambah lagi masing-masing pihak EGOIS, lalu diakhiri dengan PERTENGKARAN.
Perdebatan seringkali tidak menemui titik temu bahkan jangankan titik temu, kalau dalam matematika ada dua buah garis, garis2 tersebut tidak pernah mendekat satu sama lain, bahkan saling menjauh atau minimal sejajar terus!
Begitu pula dengan debat, soalnya masing2 punya referensi pemikiran sendiri, apalagi debat masalah agama/kepercayaan pasti tidak akan “tuntas” bahkan dipastikan topiknya melebar ke mana2!
Bagaimana menurut anda, benarkah begitu ….?
Hadirnya diriku semoga menggugah ratusan cinta, mengilhami ribuan teka teki dari setiap kenikmatan cinta yang ada. Welcome to my blog^__^
Sabtu, 14 Agustus 2010
Otak kanan dan debat
Orang kanan tidak suka berdebat. Karena pola pikirnya other centric, mencari pola, dan mencari kesamaan. Orang kiri, sebaliknya, keranjingan berdebat. Maklum saja, pola pikirnya self-centric. Sebab itulah, saya lebih suka dianggap salah, kalah, atau bodoh sekalipun, daripada berdebat. Menurut saya, “Lebih baik adu manfaat daripada adu debat.”
Lagi pula, guru saya berpesan, “Mereka yang suka berteriak-teriak itu (maksudnya, suka berdebat) lazimnya belum bisa berbuat apa-apa. Bisanya cuma teriak-teriak saja. Bisanya cuma memutarbalikkan kata-kata saja.” Kalau sudah kepepet, si pendebat malah ‘menyerang’ si individu, bukan pesannya. Tentu saja, dibungkus dengan dalih ‘kritik yang membangun’ dan ‘mengingatkan dalam kebenaran.”
Nah, ini menurut temen saya, Kang Zen:
- Pemain bergerak, penonton berteriak
- Pemain memberi contoh, penonton mencemooh
- Pemain beraksi, penonton mencaci
- Pemain menjalankan taktik, penonton siap mengkritik
- Pemain menciptakan sejarah, penonton menebarkan fitnah
Akhirnya, sampaikan apa yang perlu disampaikan. Beri nasihat. Beri input. Tapi tidak perlu berdebat-debat, apalagi sampai memaksakan pendapat.
(copas dari Ippho Santosa)
Lagi pula, guru saya berpesan, “Mereka yang suka berteriak-teriak itu (maksudnya, suka berdebat) lazimnya belum bisa berbuat apa-apa. Bisanya cuma teriak-teriak saja. Bisanya cuma memutarbalikkan kata-kata saja.” Kalau sudah kepepet, si pendebat malah ‘menyerang’ si individu, bukan pesannya. Tentu saja, dibungkus dengan dalih ‘kritik yang membangun’ dan ‘mengingatkan dalam kebenaran.”
Nah, ini menurut temen saya, Kang Zen:
- Pemain bergerak, penonton berteriak
- Pemain memberi contoh, penonton mencemooh
- Pemain beraksi, penonton mencaci
- Pemain menjalankan taktik, penonton siap mengkritik
- Pemain menciptakan sejarah, penonton menebarkan fitnah
Akhirnya, sampaikan apa yang perlu disampaikan. Beri nasihat. Beri input. Tapi tidak perlu berdebat-debat, apalagi sampai memaksakan pendapat.
(copas dari Ippho Santosa)
Katakan “Aamiin” Dengan Tepat...!
Ada cerita lucu waktu de pergi anjangsana kepanti asuhan di Batusangkar, setelah seharian sibuk merehabilitasi panti, malamnya setelah berbuka puasa dan sholat magrib kami mendengarkan ceramah dari tokoh masyarakat setempat. Waktu ceramah de gak dengerin, coz lagi beres-beres untuk pulang. Saat ceramah dah mo selesai de bergabung dengan teman-teman, bertepatan dengan itu mereka sedang mengucapkan aamiin (dengan memanjangkan ”alif” dan ”mim’) dengan kompak dan kuat disusul dengan tawa. De pun heran, napain ketawa bis ngucap amin.. de tanya ma teman, ”da apa sih, kok ketawa?”. ’iya, tadi bapak tu bilang kalo ngucap aamiin untuk mendoakan harus tepat, jangan sembarangan bilang amin, artinya nanti beda.” jawab temanku. ”oh gitu...” kataku (pura-pura ngerti, padahal masih bingung.com ). Ceramah masih berlanjut kemudian disusul dengan doa, setiap doa diucapkan selalu dibalas dengan ”Aamiin” (dengan pelafalan yang tepat) oleh kami secara kompak....
Beberapa bulan yang lalu de masih bingung dengan kejadian tersebut, maksudnya apa sih, kok ngucap amin harus dengan alif panjang dan mim panjang (Aamiin)?. Tuing tuing....kebingunanku terjawab sudah waktu membaca artikel yang membahas tentang pelafalan ”Aamiin” pada suatu majalah.
Cara pengucapan panjang pendek yang tidak tampak dalam lisan kebanyakan orang Indonesia, juga menimbulkan salah arti. Terkadang karena kita memang tidak mengerti lantaran trasliterasi yang ada tidak mencantumkan panjang pendeknya sebuah kata dalam bahasa aslinya, Arab.
Contoh, ketika kata ”Amin” dan beragam derivasinya. Kita orang Indonesia terbiasa menulis kata ”amin” diakhir sebuah do’a atau kalimat berisi harapan. Nama Ibunda Nabi Muhammad SAW, kita tulis ”Aminah”. Demikian pula kita biasa menulis gelar kehormatan untuk Nabi Muhammad SAW ketika masih muda dengan ”al-Amin’. Semua sama dalam ejaan huruf dan latin yang memang tidak mengenal panjang dan pendek ketika melafalkan sebuah kata.
Padahal ketiga kata itu dalam penulisan huruf-huruf Arabnya berbeda. Nama Ibunda Nabi Muhammad SAW sesuai dengan ejaan Arabnya yang benar adalah ”Aaminah” (dengan memanjangkan ”alif”). Sementara gelar kehormatan Nabi Muhammad SAW waktu muda adalah ”al-Amiin” (dengan memanjangkan mim yang berati orang yang jujur terpercaya). Meski dalam ejaan latin semua ditulis sama, sebaiknya dalam melafalkan kita aksentuasikan panjang pendeknya, karena hal itu jelas menunjukkan makna yang kita maksud.
Begitu juga dengan kata ”Aamiin’ yang selalu kita dengar di surat Al-Fatihah, ketika mendengarkan do’a, atau ketika mendengar kalimat berisi harapan dari orang lain. Dalam bahasa Arab, ada 4 versi kata ”amin” (semuanya berasal dari akar kata yang sama, yaitu ”alif, mim, dan nun”. Semua punya makna yang baik, namun dengan panjang pendek yang berbeda dengan makna yang beda pula) yakni:
1. ”Amin” (alif dan mim sama-sama pendek), berarti aman, tentram.
2. ”Aamin” (alif panjang dan mim pendek), mengandung makna yang meminta perlindungan keamanan.
3. ”Amiin” (alif pendek dan mim panjang), berarti yang jujur terpercaya, bisa juga bermakna setia.
4. ”Aamiin” (alif dan mim sama-sama panjang), yang memiliki makna ”Ya Tuhan, kabulkanlah do’a kami”.
Kebanyakan kita membaca kata ”Aamiin” dengan alif dan mim sama-sama panjang di akhir surat al-fatihah. Baik ketika sholat maupun diluar sholat. Namun kita sering abai dengan panjang pendek bacaan ”Amin” ketika mendengar do’a atau membaca tulisan. Maka, sudah selayaknya kini kita biasakan diri untuk mengkonfirmasikan bagaimana panjang pendek sebuah kata berbahasa Arab yang ditrasliterasi ke dalam Bahasa Indonesia. Bukan apa-apa, agar apa yang kita lafalkan benar sesuai dengan arti yang kita inginkan. Maklum setiap bahasa dan huruf punya ejaan masing-masing sehingga sebuah kata ketika diterjemahkan dan ditransliterasi bisa bergeser dari makna dan pengucapan dalam bahasa aslinya.
Hayoo, kita katakan ”Aamiin” dengan tepat..... dimulai dari sekarang yak....^___^
[Hak cipta dilindungi oleh Allah SWT TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan ke siapa saja....^^v]
Beberapa bulan yang lalu de masih bingung dengan kejadian tersebut, maksudnya apa sih, kok ngucap amin harus dengan alif panjang dan mim panjang (Aamiin)?. Tuing tuing....kebingunanku terjawab sudah waktu membaca artikel yang membahas tentang pelafalan ”Aamiin” pada suatu majalah.
Cara pengucapan panjang pendek yang tidak tampak dalam lisan kebanyakan orang Indonesia, juga menimbulkan salah arti. Terkadang karena kita memang tidak mengerti lantaran trasliterasi yang ada tidak mencantumkan panjang pendeknya sebuah kata dalam bahasa aslinya, Arab.
Contoh, ketika kata ”Amin” dan beragam derivasinya. Kita orang Indonesia terbiasa menulis kata ”amin” diakhir sebuah do’a atau kalimat berisi harapan. Nama Ibunda Nabi Muhammad SAW, kita tulis ”Aminah”. Demikian pula kita biasa menulis gelar kehormatan untuk Nabi Muhammad SAW ketika masih muda dengan ”al-Amin’. Semua sama dalam ejaan huruf dan latin yang memang tidak mengenal panjang dan pendek ketika melafalkan sebuah kata.
Padahal ketiga kata itu dalam penulisan huruf-huruf Arabnya berbeda. Nama Ibunda Nabi Muhammad SAW sesuai dengan ejaan Arabnya yang benar adalah ”Aaminah” (dengan memanjangkan ”alif”). Sementara gelar kehormatan Nabi Muhammad SAW waktu muda adalah ”al-Amiin” (dengan memanjangkan mim yang berati orang yang jujur terpercaya). Meski dalam ejaan latin semua ditulis sama, sebaiknya dalam melafalkan kita aksentuasikan panjang pendeknya, karena hal itu jelas menunjukkan makna yang kita maksud.
Begitu juga dengan kata ”Aamiin’ yang selalu kita dengar di surat Al-Fatihah, ketika mendengarkan do’a, atau ketika mendengar kalimat berisi harapan dari orang lain. Dalam bahasa Arab, ada 4 versi kata ”amin” (semuanya berasal dari akar kata yang sama, yaitu ”alif, mim, dan nun”. Semua punya makna yang baik, namun dengan panjang pendek yang berbeda dengan makna yang beda pula) yakni:
1. ”Amin” (alif dan mim sama-sama pendek), berarti aman, tentram.
2. ”Aamin” (alif panjang dan mim pendek), mengandung makna yang meminta perlindungan keamanan.
3. ”Amiin” (alif pendek dan mim panjang), berarti yang jujur terpercaya, bisa juga bermakna setia.
4. ”Aamiin” (alif dan mim sama-sama panjang), yang memiliki makna ”Ya Tuhan, kabulkanlah do’a kami”.
Kebanyakan kita membaca kata ”Aamiin” dengan alif dan mim sama-sama panjang di akhir surat al-fatihah. Baik ketika sholat maupun diluar sholat. Namun kita sering abai dengan panjang pendek bacaan ”Amin” ketika mendengar do’a atau membaca tulisan. Maka, sudah selayaknya kini kita biasakan diri untuk mengkonfirmasikan bagaimana panjang pendek sebuah kata berbahasa Arab yang ditrasliterasi ke dalam Bahasa Indonesia. Bukan apa-apa, agar apa yang kita lafalkan benar sesuai dengan arti yang kita inginkan. Maklum setiap bahasa dan huruf punya ejaan masing-masing sehingga sebuah kata ketika diterjemahkan dan ditransliterasi bisa bergeser dari makna dan pengucapan dalam bahasa aslinya.
Hayoo, kita katakan ”Aamiin” dengan tepat..... dimulai dari sekarang yak....^___^
[Hak cipta dilindungi oleh Allah SWT TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan ke siapa saja....^^v]
Rabu, 11 Agustus 2010
Listen Ur heart.....(",)
Kebenaran seringkali sudah kita sadari, tanpa berlama-lama kita memikirkannya. Tetapi ada kalanya ia tidak kuasa kita ikuti, karena berbagai sebab yang kita biarkan mendominasi kita. Kebenaran itu seringkali sederhana saja dan begitu gamblang, tapi kerap tetap saja kita abaikan. Meski ketenangan kita pun menjadi korban, meski kata hati tetap menolak prilaku negatif yang kita pilih.
Suatu hari seorang peneliti melakukan hal sempat menghebohkan teman-temannya. Bermula saat peneliti yang Muslim itu berdebat dengan teman-temannya, tentang kemestian memperlakukan AI Qur'an dengan adab islami. Rupanya, ia merasa terpo¬jokkan, karena hanya ia sendiri yang mengaku tidak percaya dengan kemestian itu. Karena, menurutnya, AI Qur'an tidaklah mesti diper¬lakukan sedemikian. Bahkan, ia kebablasan, dan melempar AI Qur'an ke lantai.
Kawan-kawannya sangat terkejut melihat polahnya. Beberapa hari kemudian, mereka kembali dikejutkan dengan berita, orang itu mengalami kelumpuhan. Mereka pun menjenguknya, dan ia ternyata sangat menyesal dan bertaubat. Beberapa bulan kemudian, datang kembali kabar mengagetkan sekaligus melegakan, orang itu sembuh dari kelumpuhan. Peneliti itu justru menjadi peduli pada agama. la bersyukur Allah masih berkenan memberinya balasan dan peringatan. Meski semestinya ia tidak perlu sekacau itu, jika saja ia mendengarkan kata hatinya sejak semula.
Kita mungkin merasa, amatlah jauh prilaku orang itu sebelum ia bertaubat, dengan keseharian kita. Namun, janganlah kita lupa, bahwa boleh jadi kita pun tak luput dari kebiasaan kurang mempedulikan agama. Seringkali keinginan kita mempelajari lebih dalam lagi agama kita, terkalahkan begitu saja oleh segala hal, yang sekonyong-konyong terasa amat berat untuk kita tinggalkan. Bahkan mungkin hafalan kita pada ayat-ayat AI Qur'an justru makin lama makin berkurang.
Mari kita simak pula apa yang dialami seorang renta nun jauh di Yaman Selatan. Kejadian yang ia alami demikian membekas di benak tetangganya. Ketika tetangga itu mendengar suara benda bergulingan di tangga rumah yang berdempetan dengannya. Lantas terdengar hardikan. Sewaktu tetangga itu mendatangi rumah itu, ia mendapati temannya yang renta tengah terduduk di anak tangga kesekian, dan menangis.Tetangga itu bernalar, tentu anaknya yang mendorong pak tua itu, yang syukurlah, "hanya" jatuh beberapa tangga saja. Tetangga itu berniat menghardik balik sang anak. Tapi ayahnya justru melarang. "Biarkan, perlakuannya persis seperti yang saya lakukan dulu pada orang tua saya. Bedanya, orang tua saya jatuh hingga ke tangga paling bawah," ujar sang ayah perlahan. Ini sama sekali bukan pembenaran atas pengkhianatan dan kezhaliman kepada orang tua. Hanya, betapa sang ayah menyadari apa yang ia lakukan pada orang tuanya bertahuntahun lalu, begitu kuat mengingatkan kita, bahwa balasan memang akan datang, dan bisa demikian cepat.
Mari kita tanyakan kembali diri kita, adakah kita membuka peluang datangnya berbagai balasan itu?
[Hak cipta dilindungi oleh Allah SWT TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan ke siapa saja....^^v]
Pertengkaran Para Warna..!!! Cekidot^__^
Dahulu, warna-warna yang ada di bumi bertengkar. Semua mengklaim dirinya paling bagus, dan paling berguna.
Si Hijau mengatakan, "Akulah yang terpenting. Aku simbol kehidupan dan pengharapan. Aku dipilih oleh padi, rerumputan, dan pepohonan. Tanpa diriku, semua makhluk akan mati."
Si Biru menimpali, "Jangan hanya berpikir tentang Bumi. Lihatlah birunya langit dan lautan luas. Air adalah sumber kehidupan, Langit memberi ruang dan kedamaian."
Si Kuning menyela, "Ah kalian terlalu serius. Aku membawa kegembiraan dan kehangatan di dunia. Matahari berwarna kuning, juga Bulan. Tanpa kehadiranku tak ada kegembiraan."
Si Jingga tak mau kalah, "Aku simbol kesehatan dan kekuatan. Buktinya, aku dipercaya melayani kebutuhan manusia, membawa vitamin-vitamin penting bagi kehidupan manusia. Coba lihat aku pada wortel, labu, jeruk, dan pepaya."
"Aku darah kehidupan! Lambang keberanian dan cinta. Tanpaku, Bumi akan kosong melompong," sela si Merah.
Sementara itu si Ungu teriak," Aku adalah warna aristokrat dan kekuatan.Para raja dan pemimpin selalu memilih warnaku untuk pakaian dan aksesori mereka."
Pertengkaran semakin seru. Masing-masing tidak mau mengalah. Tiba-tiba muncul kilat dan gelegar suara petir, disertai hujan deras. Tanpa dikomando warna-warna itumerunduk ketakutan, lalu saling mendekat mencari perlindungan.
Sang hujan berkata, "Hei warna-warna bodoh! Jangan bertengkar! Ketahuilah, masing-masing kamu diciptakan untuk tujuan khusus, unik, dan berbeda satu sama lain. Kemarilah, saling bergandeng tangan. "Warna-warna itu melakukan apa yang dikatakan sang Hujan. Mulai sekarang setiap kali turun hujan, masing-masing kalian akan terentang di udara dalam satu pelangi yangindah, sebagai peringatan bahwa kalian harus hidup bersama dalam damai."
-----------------
Kita hanyalah salah satu warna diantaranya. Sekarang bukanlah saatnya bagi kita untuk mengatakan, saya A, B, C, D, dan lain-lain. Bukan juga saling menyalahkan.
Inilah saatnya kita mulai bersatu, membentuk satu komposisi yang Indah, dan mendamaikan bagi siapa saja yang melihatnya. Yang akan mengokohkan, menguatkan, dan mempersatukan warna-warna lain yang masih bertengkar.
Sungguh aneh, jika kita bertengkar satu sama lain, sedangkan yang lain malah bersatu untuk menghancurkan kitaL.
Bersatulah, karena Allah menyukai orang-orang yang bersatu ^__^
Si Hijau mengatakan, "Akulah yang terpenting. Aku simbol kehidupan dan pengharapan. Aku dipilih oleh padi, rerumputan, dan pepohonan. Tanpa diriku, semua makhluk akan mati."
Si Biru menimpali, "Jangan hanya berpikir tentang Bumi. Lihatlah birunya langit dan lautan luas. Air adalah sumber kehidupan, Langit memberi ruang dan kedamaian."
Si Kuning menyela, "Ah kalian terlalu serius. Aku membawa kegembiraan dan kehangatan di dunia. Matahari berwarna kuning, juga Bulan. Tanpa kehadiranku tak ada kegembiraan."
Si Jingga tak mau kalah, "Aku simbol kesehatan dan kekuatan. Buktinya, aku dipercaya melayani kebutuhan manusia, membawa vitamin-vitamin penting bagi kehidupan manusia. Coba lihat aku pada wortel, labu, jeruk, dan pepaya."
"Aku darah kehidupan! Lambang keberanian dan cinta. Tanpaku, Bumi akan kosong melompong," sela si Merah.
Sementara itu si Ungu teriak," Aku adalah warna aristokrat dan kekuatan.
Pertengkaran semakin seru. Masing-masing tidak mau mengalah. Tiba-tiba muncul kilat dan gelegar suara petir, disertai hujan deras. Tanpa dikomando warna-warna itumerunduk ketakutan, lalu saling mendekat mencari perlindungan.
Sang hujan berkata, "Hei warna-warna bodoh! Jangan bertengkar! Ketahuilah, masing-masing kamu diciptakan untuk tujuan khusus, unik, dan berbeda satu sama lain. Kemarilah, saling bergandeng tangan. "Warna-warna itu melakukan apa yang dikatakan sang Hujan. Mulai sekarang setiap kali turun hujan, masing-masing kalian akan terentang di udara dalam satu pelangi yangindah, sebagai peringatan bahwa kalian harus hidup bersama dalam damai."
-----------------
Kita hanyalah salah satu warna diantaranya. Sekarang bukanlah saatnya bagi kita untuk mengatakan, saya A, B, C, D, dan lain-lain. Bukan juga saling menyalahkan.
Inilah saatnya kita mulai bersatu, membentuk satu komposisi yang Indah, dan mendamaikan bagi siapa saja yang melihatnya. Yang akan mengokohkan, menguatkan, dan mempersatukan warna-warna lain yang masih bertengkar.
Sungguh aneh, jika kita bertengkar satu sama lain, sedangkan yang lain malah bersatu untuk menghancurkan kitaL.
Bersatulah, karena Allah menyukai orang-orang yang bersatu ^__^
[Hak cipta dilindungi oleh Allah SWT
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan ke siapa saja....^^v]
Berfikir Sederhana
Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.
Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, 'untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?'
Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, 'Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.' Agak lama pemburu menunggu.
Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburu pun mulai siaga penuh,tetapi ternyata, ah... kijang. Ia pun membiarkannya berlalu.
Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, 'Rusa!!!' sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.
***
Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.
Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim, baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.
Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, 'untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?'
Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, 'Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.' Agak lama pemburu menunggu.
Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburu pun mulai siaga penuh,tetapi ternyata, ah... kijang. Ia pun membiarkannya berlalu.
Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, 'Rusa!!!' sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.
***
Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.
Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim, baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.
[Hak cipta dilindungi oleh Allah SWT
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan ke siapa saja....^^v]
Sumber: Om Google
Langganan:
Postingan (Atom)