*Ini lanjutan tulisan sebelumnya.*
Suatu malam disalah satu ruang kelas kampus. Kami mengadakan sidang Laporan Pertanggunggawaban (LPJ) masing2 ketua divisi. Saat itu saya mewakili ketua saya untuk menyampaikan LPJ divisi inventaris.
Tak ada tanda2 saya akan mendapatkan masalah malam itu, semua berjalan tenang dan damai. Namun, semuanya berubah jadi menjengkelkan saat ketua Komdis menyampaikan LPJ. Dimana dia menyatakan telah membuat sistem SP (Surat Peringatan) bagi anggota yg melanggar disiplin. Dan selama dia menjabat, pihak Komdis telah mengeluarkan 1 SP. Bisa ditebak dong siapakah manusia beruntung yg mendapatkan SP ituh? Eaaa... Saya :_(
Awalnya saya gak begitu kaget yah, resiko saya untuk dapat SP emang besar. Tapi yg saya gak sukaknya, alasan saya dapat SP karna saya gak ikut Anjangsana beberapa waktu yg lalu. Hey! Bukankah saat itu saya sakit? 2 orang anggota juga melihat kondisi saya. Dan saya juga telah minta izin sama ketua panitia (baca catatan sebelumnya). Kalo untuk kesalahan lain, it's okelah, saya terima. Tp ini krn gak datang anjangsana yg mana saya dalam keadaan sakit, kok dapat SP. Dimana letak salahnya?
Balik ke suasana sidang LPJ, Hati saya panas, ego saya terguncang. Saya merasa dijadikan sbg kelinci percobaan. Saya ingin protes, tp dicegah. Semacam dipaksa untuk menerima keadaan. Kalo saja saya mau berkeras untuk protes, pastinya ketua komdis itu mendapat malu. Sayangnya saya tak setega itu.
Daripada saya meledak diruang itu, lebih baik saya keluar. Sayapun langsung mencari 2 org teman yg tau kondisi saya waktu sakit. Mereka mengklaim bahwa mereka sudah menyampaikan kondisi saya yg sakit, bahkan ketua komdis itu juga mendengar.
###
Hidup di dunia memang penuh dengan ketidakadilan. Makanya Tuhan menciptakan hari pembalasan.
Purnama, 23 Oktober 2011
Hadirnya diriku semoga menggugah ratusan cinta, mengilhami ribuan teka teki dari setiap kenikmatan cinta yang ada. Welcome to my blog^__^
Minggu, 23 Oktober 2011
Sabtu, 22 Oktober 2011
Tentang Salam Kemanusiaan
*ini tentang semacam curhat.*
Dikampus, saya mengikuti salah satu organisasi kemahasiswaan. Pada suatu hari kami
mengadakan kegiatan tahunan, anjangsana ke panti asuhan.
Persiapan pra anjangsana telah siap, namun tepat sehari sebelum hari H saya jatuh demam. Saya pikir saya tidak bisa pergi anjangsana dalam keadaan sakit begini mengingat lokasi panti asuhan yang lumayan jauh, dan butuh beberapa jam naik bus. Lalu saya putuskan untuk minta izin kepada ketua panitia via sms, bahwa saya
sakit dan tidak bisa ikut kegiatan. Malam sebelum hari H sekitar jam
10, 2 orang teman (teman seorganisasi dan sekost) datang kekamar untuk meminjam bantal dan tikar karna ada beberapa senior yg
numpang menginap. Saat itu saya sedang mengompres kening saya
sendiri. Mereka tau saya demam tinggi, mereka sempat menyentuh
kening saya. Dan saya yakin,beberapa senior yg numpang menginap itu pasti tau kalo saya sakit. Tapi tak ada satupun dari mereka yg menjenguk saya. Ahh, saya pikir mereka mungkin kelelahan krn persiapan anjangsana. Tp, hey, masa menjenguk sebentar anggotanya yg sakit saja tidak sempat? Padahal mereka hanya tinggal menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai kamar kos saya. Padahal saya dengar mereka
tertawa cekikikan khas perempuan di bawah sana. Entah kemana perginya slogan salam
kemanusiaan ituh? Atau mungkin saja mereka mendadak amnesia.
Dan sampai sekarangpun saya masih bertanya-tanya :_(
###
Terkesan cengeng memang. Seakan2 saya butuh di jenguk gituh. Tidak kawan, bukan itu yg ingin saya sampaikan disini. Tp tentang 'salam kemanusiaan' yg sering diucapkan tapi dalam prakteknya menyedihkan.
Ahh, semoga saja kalian paham.
Purnama, 22 Oktober 2011
di subuh hari yg melankoli.
Dikampus, saya mengikuti salah satu organisasi kemahasiswaan. Pada suatu hari kami
mengadakan kegiatan tahunan, anjangsana ke panti asuhan.
Persiapan pra anjangsana telah siap, namun tepat sehari sebelum hari H saya jatuh demam. Saya pikir saya tidak bisa pergi anjangsana dalam keadaan sakit begini mengingat lokasi panti asuhan yang lumayan jauh, dan butuh beberapa jam naik bus. Lalu saya putuskan untuk minta izin kepada ketua panitia via sms, bahwa saya
sakit dan tidak bisa ikut kegiatan. Malam sebelum hari H sekitar jam
10, 2 orang teman (teman seorganisasi dan sekost) datang kekamar untuk meminjam bantal dan tikar karna ada beberapa senior yg
numpang menginap. Saat itu saya sedang mengompres kening saya
sendiri. Mereka tau saya demam tinggi, mereka sempat menyentuh
kening saya. Dan saya yakin,beberapa senior yg numpang menginap itu pasti tau kalo saya sakit. Tapi tak ada satupun dari mereka yg menjenguk saya. Ahh, saya pikir mereka mungkin kelelahan krn persiapan anjangsana. Tp, hey, masa menjenguk sebentar anggotanya yg sakit saja tidak sempat? Padahal mereka hanya tinggal menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai kamar kos saya. Padahal saya dengar mereka
tertawa cekikikan khas perempuan di bawah sana. Entah kemana perginya slogan salam
kemanusiaan ituh? Atau mungkin saja mereka mendadak amnesia.
Dan sampai sekarangpun saya masih bertanya-tanya :_(
###
Terkesan cengeng memang. Seakan2 saya butuh di jenguk gituh. Tidak kawan, bukan itu yg ingin saya sampaikan disini. Tp tentang 'salam kemanusiaan' yg sering diucapkan tapi dalam prakteknya menyedihkan.
Ahh, semoga saja kalian paham.
Purnama, 22 Oktober 2011
di subuh hari yg melankoli.
Senin, 19 September 2011
Tentang Curhat
Sms yg cukup menggelitik malam ini. Versi editan ;)
Me: jadi, gimana dengan eneng?
Masboy: gue rasa, eneng tu memanglah ada hati dgn gue de. Dia dikit2 curhat mulu ke gue.
Me: waduh, kamu juga sering curhat ke ade. Gmn tuh? ;p
Masboy: berarti gue ada hati dengan ade. Hadooh, siyal.
Me: wuakakakak....
Hm, gak mesti orang yg suka curhat itu pertanda ada hati. Bisa jadi karna nyaman.
Masboy: hmm, yah yah. Lebih baek gue tidur.
***
Sering curhat ke lawan jenis??
Saya pernah, tapi tidak sering, dan hanya ke orang2 tertentu serta pada kondisi tertentu.
Sebagian orang memang suka curhat ke orang yg di sukainya. Mungkin modus untuk pedekate kali yah, heheh. Tapi, gak mesti tiap orang yg curhat itu karna 'ada hati'. Bisa jadi karna nyaman ato karna ngerasa di denger curhatannya, makanya jadi curhat mulu. Nyandu. Ya toh?
Sekian....
Ps:
Eh, kalo ada yg mo curhat ma saya, bole2 saja. Tanpa di pungut biaya ;))
Masboy: ^^v peace n tengkyu :*
Purnama, 19 September 2011
Me: jadi, gimana dengan eneng?
Masboy: gue rasa, eneng tu memanglah ada hati dgn gue de. Dia dikit2 curhat mulu ke gue.
Me: waduh, kamu juga sering curhat ke ade. Gmn tuh? ;p
Masboy: berarti gue ada hati dengan ade. Hadooh, siyal.
Me: wuakakakak....
Hm, gak mesti orang yg suka curhat itu pertanda ada hati. Bisa jadi karna nyaman.
Masboy: hmm, yah yah. Lebih baek gue tidur.
***
Sering curhat ke lawan jenis??
Saya pernah, tapi tidak sering, dan hanya ke orang2 tertentu serta pada kondisi tertentu.
Sebagian orang memang suka curhat ke orang yg di sukainya. Mungkin modus untuk pedekate kali yah, heheh. Tapi, gak mesti tiap orang yg curhat itu karna 'ada hati'. Bisa jadi karna nyaman ato karna ngerasa di denger curhatannya, makanya jadi curhat mulu. Nyandu. Ya toh?
Sekian....
Ps:
Eh, kalo ada yg mo curhat ma saya, bole2 saja. Tanpa di pungut biaya ;))
Masboy: ^^v peace n tengkyu :*
Purnama, 19 September 2011
Kamis, 18 Agustus 2011
Melati dan Rokok
Entah apa yg ada di pikiran Melati (2th) saat menjepit lintingan kertas di bibir mungilnya. Yang kemudian di beri api sama abangnya (± 3 th). Alhasil, api dengan cepat membakar seluruh lintingan kertas DAN beserta WAJAH Melati.
Entah dapat ilmu darimana, si abang dengan sigap menepuk-nepuk wajah Melati untuk memadamkan api.
Api memang padam, tapi wajah Melati menyisakan luka bakar yg cukup mengerikan.
See?!
Jelas banget kalo nih anak mo coba2 ngeROKOK. Ya kan?
Dan pastinya mereka mencoba meniru orang2 yang merokok disekitarnya. Tak dapat disangkal!
###
Saya bukan anti rokok. Saya hanya gemez bin eneg ngeliat Perokok Zalim (merokok di depan umum tanpa peduli orang lain hampir mati karena terpapar asap rokok).
Jadi, buat Anda-Anda yang merasa punya otak dan hati nurani, yang merasa dewasa dari cara berfikir apalagi umur, cobalah untuk menjadi perokok yg BERADAB, kalo emang gak bisa cerai dari rokok.
Jangan sampai karena tindakan merokok Anda itu, memancing rasa ingin tahu anak kecil untuk mencobai rokok.
Nah, mau tahu bagaimana caranya merokok yg beradab?
PIKIR AJA SENDIRI....!!!!
Punya otak kan?!
Purnama, 18 Agustus 2011
Entah dapat ilmu darimana, si abang dengan sigap menepuk-nepuk wajah Melati untuk memadamkan api.
Api memang padam, tapi wajah Melati menyisakan luka bakar yg cukup mengerikan.
See?!
Jelas banget kalo nih anak mo coba2 ngeROKOK. Ya kan?
Dan pastinya mereka mencoba meniru orang2 yang merokok disekitarnya. Tak dapat disangkal!
###
Saya bukan anti rokok. Saya hanya gemez bin eneg ngeliat Perokok Zalim (merokok di depan umum tanpa peduli orang lain hampir mati karena terpapar asap rokok).
Jadi, buat Anda-Anda yang merasa punya otak dan hati nurani, yang merasa dewasa dari cara berfikir apalagi umur, cobalah untuk menjadi perokok yg BERADAB, kalo emang gak bisa cerai dari rokok.
Jangan sampai karena tindakan merokok Anda itu, memancing rasa ingin tahu anak kecil untuk mencobai rokok.
Nah, mau tahu bagaimana caranya merokok yg beradab?
PIKIR AJA SENDIRI....!!!!
Punya otak kan?!
Purnama, 18 Agustus 2011
Minggu, 17 Juli 2011
Gosip Ituu.....
Peringatan...!
Inih tentang Gosip. Yang ndak suka dengan gosip, jangan baca tulisan inih....!!!
Bagi yg nekat, resiko tanggung sendiri. Owkeh_^
Let's go...
Berikut adalah dialog yg terjadi di klinik tempat saya bekerja dengan pasien yg juga adalah teman saya beberapa waktu yg lalu.
Obrolan pertama
Neng: 'anak SMA X kan?'
Aku: 'iya. Anak SMA X juga? Jurusan apa kemaren?'
Neng: 'jurusan XYZ.'
Aku: 'owh... Sekelas sama Upik gak?'
Neng: 'Upik? iyaah. eh, Upik tu dulu pernah boker dikelas loh, dia bla bla bla.....'
Aku: '........'
###
Obrolan kedua
Butet: 'kapan nikah de? Yg laen dah byk nikah dah.'
Aku: 'ntarlah. Masih kecil nieh, heheh'
Butet: 'kemaren aku ketemu Siti'
Aku: 'ha, apa kabar anak tu?'
Butet: 'bapak dia dah meninggal de'
Aku: 'iyaaah?!!'
Butet: 'iya, eh tapi emak dia nikah lagi loh' jawab butet dgn senyum penuh arti.
Aku: 'eh...' lemes.
###
Obrolan ketiga
Aku: 'dah berapo anak?'
Nona: 'baru satu'
Aku: 'owh... Tak ada ketemu2 sama kawan sekolah?'
Nona: 'ada sih, tapi jarang. Eh, kau tau gak, si Bunga dah menjanda loh de.'
Aku: 'eh, aku dah tau kok.'
###
Ahh, gosip. Saya sih oke2 saja bergosip, tapi bukan berarti to the point membicarakan aib/keburukan orang gitu. Gak etis aja rasanya (emang gosip ada kode etik gitu ya de?), baru saja memulai pembicaraan, topik pertamanya tentang keburukan orang. Kalo sudah begitu, saya pun jadi malas melanjutkan pembicaraan, apalagi kalo ngobrolnya bukan dgn orang yg akrab. Kamu jugakan?
Bukankah dari sekian banyak bahan pergosipan, masih banyak opsi cerita2 bahagia yg lebih layak untuk dibicarakan, yg lebih menginspirasi? Yg bisa di jadikan pelajaran. Yg ada hikmahnya.
Kenapa musti yg buruk2 dulu sih? Gak ada untung2nya sama sekali buat saya.
Eeaaa, selera, minat dan pemikiran tiap orang emang beda-beda. Termasuk dalam bergosip. Hmm...
Kesimpulan:
Terserah pembaca menyimpulkan dan menilainya sajalah ;D
Eniwei, Saya yg mengkritik 3 tokoh di atas, sepertinya juga melakukan hal yg sama di note ini, hiks :/
Duh Tuhan, lagi dan lagi, ampunilah aku_/\_
Inih tentang Gosip. Yang ndak suka dengan gosip, jangan baca tulisan inih....!!!
Bagi yg nekat, resiko tanggung sendiri. Owkeh_^
Let's go...
Berikut adalah dialog yg terjadi di klinik tempat saya bekerja dengan pasien yg juga adalah teman saya beberapa waktu yg lalu.
Obrolan pertama
Neng: 'anak SMA X kan?'
Aku: 'iya. Anak SMA X juga? Jurusan apa kemaren?'
Neng: 'jurusan XYZ.'
Aku: 'owh... Sekelas sama Upik gak?'
Neng: 'Upik? iyaah. eh, Upik tu dulu pernah boker dikelas loh, dia bla bla bla.....'
Aku: '........'
###
Obrolan kedua
Butet: 'kapan nikah de? Yg laen dah byk nikah dah.'
Aku: 'ntarlah. Masih kecil nieh, heheh'
Butet: 'kemaren aku ketemu Siti'
Aku: 'ha, apa kabar anak tu?'
Butet: 'bapak dia dah meninggal de'
Aku: 'iyaaah?!!'
Butet: 'iya, eh tapi emak dia nikah lagi loh' jawab butet dgn senyum penuh arti.
Aku: 'eh...' lemes.
###
Obrolan ketiga
Aku: 'dah berapo anak?'
Nona: 'baru satu'
Aku: 'owh... Tak ada ketemu2 sama kawan sekolah?'
Nona: 'ada sih, tapi jarang. Eh, kau tau gak, si Bunga dah menjanda loh de.'
Aku: 'eh, aku dah tau kok.'
###
Ahh, gosip. Saya sih oke2 saja bergosip, tapi bukan berarti to the point membicarakan aib/keburukan orang gitu. Gak etis aja rasanya (emang gosip ada kode etik gitu ya de?), baru saja memulai pembicaraan, topik pertamanya tentang keburukan orang. Kalo sudah begitu, saya pun jadi malas melanjutkan pembicaraan, apalagi kalo ngobrolnya bukan dgn orang yg akrab. Kamu jugakan?
Bukankah dari sekian banyak bahan pergosipan, masih banyak opsi cerita2 bahagia yg lebih layak untuk dibicarakan, yg lebih menginspirasi? Yg bisa di jadikan pelajaran. Yg ada hikmahnya.
Kenapa musti yg buruk2 dulu sih? Gak ada untung2nya sama sekali buat saya.
Eeaaa, selera, minat dan pemikiran tiap orang emang beda-beda. Termasuk dalam bergosip. Hmm...
Kesimpulan:
Terserah pembaca menyimpulkan dan menilainya sajalah ;D
Eniwei, Saya yg mengkritik 3 tokoh di atas, sepertinya juga melakukan hal yg sama di note ini, hiks :/
Duh Tuhan, lagi dan lagi, ampunilah aku_/\_
Sabtu, 11 Juni 2011
a.b.o.r.s.i
“Kalau saja kau ingat seluruh perjuanganmu mencapai tempat di rahimmu, Ibu, kau pasti tak akan melakukan ini semua. Hanya saja, dunia menggerus ingatanmu. Dan tak lagi membekaskan memori masa lalu asal muasalmu. Aku manusia, Ibu. Walau setengah manusia. Aku berhak hidup dan melihat dunia, walau ia fana.”
Cuplikan cerpen yg saya kutip dari ini, mengingatkan saya tentang kisah seorang teman (sebut saja Bunga) yg pernah melakukan Aborsi.
Waktu itu, tiba2 saja Bunga menceritakan kisah itu kepada saya. Bermula saat Bunga tau kalo dia hamil (diluar nikah) ± 2 bulan, diapun mulai mencari cara untuk menggugurkan kandungan tersebut. Dari meninju perut, minum jamu2an, air tapai, nenas sudah dicobanya, tapi gagal, janin itu masih ada di rahimnya.
Bunga mulai mencari alternatif lain, Tempat Aborsi (semacam klinik tersembunyi)! Namun biaya aborsi yg lumayan mahal, membuat Bunga mengurungkan niatnya. Ke dukun beranak? Bunga tak berani.
Akhirnya, Bunga mendapat solusi dari temannya (yg juga pernah melakukan aborsi). Solusi itu berupa Pil yg bisa dibeli di apotik.
Bunga yg nekat, meminum pil ketika keluarganya sudah terlelap. Beberapa jam kemudian pil itu mulai bereaksi. Perut Bunga kram disusul dengan pendarahan hebat. Sungguh sakit yg luar biasa dirasakan Bunga.
Dan, aborsipun berhasil, janin itu keluar bersama darah yg ditampung di ember. Bau amis menyeruak keseluruh kamar. Bunga yg lelah memungut janin dari genangan darah, membungkusnya lalu mengendap-endap keluar rumah.
Waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi, sang pacar telah menanti disamping rumah. Menanti janin untuk di kuburkan.
###
Inilah Bunga, gadis manis dari keluarga harmonis, yang menjalin cinta tanpa restu orang tua. Bunga yg tega mengaborsi janinnya.
###
Ada yang berminat mengikuti jejak Bunga?
*plak! Di lempar bunga sekalian potnya*
Heheheheh^^v
Minggu, 05 Juni 2011
Ibadah vs Senior
Waktu itu sedang antri untuk berwudhu, ketika sudah tiba giliranku, seorang akhwat senior nyeletuk 'senior first dek.'
kulirik sekilas, 'maaf kak, kalo untuk urusan ibadah, kita harus mendahulukan diri sendiri. Gak ada urusan dgn senior junior.' ucapku cepat lalu segera berwudhu.
Terdengar gerutuan dibelakangku, yg sepertinya kesal dengan ucapanku barusan, dan berakhir dgn celetukan, 'iya yaah, hm hm'. Ahh, apakah itu tandanya dia mengerti dgn ucapanku? Semoga.
Setelah berwudhu, kutatap senior tsb, dan tersenyum sekilas lalu berlalu menuju mesjid kampus.
Hahaha, senangnya dalam hati ;D ;D :p
terkadang senior itu berlebihan atas kesenioritasan mereka. It's okaylah kalo untuk urusan duniawi (yg masuk akal) senior bolehlah didahulukan. Tp kalo urusan ibadah, maap aje ye, kite mesti mendahulukan diri masing2 tau ;) Heheh
Siapapun yg lebih dulu menduduki shaf terdepan di mesjid, dialah yg berhak. Tak peduli yg telat datang itu jendral atau bahkan presiden. Ya toh?
Salam :)
*diposting krn sedang kesal dgn senior yg sok paten :| *
kulirik sekilas, 'maaf kak, kalo untuk urusan ibadah, kita harus mendahulukan diri sendiri. Gak ada urusan dgn senior junior.' ucapku cepat lalu segera berwudhu.
Terdengar gerutuan dibelakangku, yg sepertinya kesal dengan ucapanku barusan, dan berakhir dgn celetukan, 'iya yaah, hm hm'. Ahh, apakah itu tandanya dia mengerti dgn ucapanku? Semoga.
Setelah berwudhu, kutatap senior tsb, dan tersenyum sekilas lalu berlalu menuju mesjid kampus.
Hahaha, senangnya dalam hati ;D ;D :p
terkadang senior itu berlebihan atas kesenioritasan mereka. It's okaylah kalo untuk urusan duniawi (yg masuk akal) senior bolehlah didahulukan. Tp kalo urusan ibadah, maap aje ye, kite mesti mendahulukan diri masing2 tau ;) Heheh
Siapapun yg lebih dulu menduduki shaf terdepan di mesjid, dialah yg berhak. Tak peduli yg telat datang itu jendral atau bahkan presiden. Ya toh?
Salam :)
*diposting krn sedang kesal dgn senior yg sok paten :| *
Langganan:
Postingan (Atom)
